Dua Pesan Menag pada PTKI, Integrasi Keilmuan dan Riset Berkualitas

By Admin


nusakini.com, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar memberi dua pesan khusus kepada para civitas academica Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Menag menekankan pentingnya standarisasi integrasi keilmuan serta peningkatan kualitas riset.

Hal ini disampaikan Menag dalam rapat koordinasi pimpinan yang membahas proyeksi pendidikan tinggi keagamaan tahun 2026. Rapat diikuti para pejabat Eselon I dan II kantor pusat Kementerian Agama secara luring, serta para Pimpinan PTKI, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, dan Kepala Kankemenag Kab/Kota secara daring.

Menag menyoroti bahwa setiap mahasiswa, terlepas dari disiplin ilmunya, harus memiliki landasan kemampuan agama yang kuat sebagai distingsi utama. "Ada amanah mendasar tentang transformasi atau integrasi keilmuan antara ilmu umum dan agama. Saya usul perlu ada standarisasi integrasi keilmuan yang harus dimiliki oleh seluruh anak-anak dari universitas kita," tegas Menag di Kantor Kemenag Lapangan Banteng, Selasa (13/1/2026).

Pesan kedua, Menag mendorong para dosen dan peneliti di lingkungan Kementerian Agama untuk lebih berani melakukan terobosan ilmiah yang diakui secara internasional. Menag meyakini bahwa dengan penguasaan metodologi yang tepat, karya-karya akademik dari lingkungan keagamaan dapat memberikan kontribusi nyata bagi peradaban dunia.

"Saya minta kepada para dosen, bagaimana menghibur mereka itu untuk menjadi peneliti yang baik. Ilmu keagamaan itu bukan hanya ilmu akhirat, tapi ilmu keduniaan juga. Jika kita mengoptimalkan karya-karya kita, tidak mustahil prestasi masa lalu bisa terulang," ujar Menag.

Hal senada disampaikan Sekjen Kementerian Agama, Kamaruddin Amin. Dia menekankan pentingnya percepatan redesign transformasi kelembagaan agar sejalan dengan standar nasional di kementerian terkait. Sekjen mengingatkan bahwa penguatan status institusi harus didasarkan pada data dan rencana pengembangan yang matang untuk lima tahun ke depan.

"Kementerian Agama harus memastikan redesign pengembangan transformasi itu jelas rencananya sampai lima tahun ke depan. Tolong dipastikan datanya diberikan agar kita bisa menuntaskan ini di tingkat kementerian terkait," ungkap Kamaruddin Amin.

Selain masalah kelembagaan, Sekjen juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi kampus melalui optimalisasi aset Badan Layanan Umum (BLU) guna mendukung fasilitas pendidikan yang lebih baik. "Ini adalah peluang besar bagi kita mendapatkan aset melalui fasilitator. Kita perlu mendorong ini agar menambah nilai aset bangunan kita, yang pada akhirnya akan menunjang kualitas layanan kepada mahasiswa," tambah Sekjen.

Transformasi Pendidikan Tinggi

Kementerian Agama mempercepat transformasi digital melalui sistem ESNS untuk mengintegrasikan data mahasiswa dan dosen secara real-time guna mendukung kebijakan "satu data". Selain digitalisasi, Kemenag fokus pada internasionalisasi dengan menargetkan lebih banyak PTKIN masuk dalam peringkat dunia serta memperkuat moderasi melalui Kurikulum Berbasis Cinta.

"Terkait dengan kurikulum berbasis cinta, itu kita sudah menerbitkan buku materi untuk PTKI. Ini sudah meng-culture bagaimana dosen dan mahasiswa saling memperhatikan," jelas Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kemenag, Sahiron.

Di sektor praktis, Kemenag menargetkan pembukaan 10 program studi vokasi baru, seperti manajemen haji dan industri halal, serta menjalankan program Green Campus sebagai wujud nyata ekoteologi. Inisiatif ini juga mencakup penguatan riset internasional dan kolaborasi dengan dunia industri untuk meningkatkan daya serap lulusan.

"Ini merupakan penerjemahan kami terhadap ekoteologi yang disampaikan oleh Pak Menteri melalui piloting Green Campus," tutup Sahiron. (*)